Wednesday, October 31, 2012

Rumah Tradisional Minangkabau


Rumah Tradisonal Minangkabau

Indonesia kaya akan budaya dan tradisi, begitu Indah jika kita dapat melestarikannya. Melalui tulisan ini semoga kita dapat mengenal lebih dalam kekayaan budaya kita, malalui sisi arsitektur rumah tradisional atau rumah adat masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.


Asal muasal bentuk rumah gadang, atap pada rumah gadang seperti tanduk kerbau ada hubungannya dengan cerita tradisi Tambo Alam Minangkabau. Cerita tersebut mengisahkan kemenangan orang suku Minang atas orang suku Jawa dalam pertandingan adu kerbau. Bentuk-bentuk menyerupai tanduk kerbau sangat umum digunakan orang Minangkabau, baik sebagai simbol atau pada perhiasan. Salah satunya pada pakaian adat mereka, yaitu tingkuluak tanduak (tengkuluk tanduk) untuk Bundo Kanduang.

Tapi ada juga versi yang lain, yang mungkin ini lebih relevan kisah perjalanan nenek moyang orang Minangkabau. Konon kabarnya, kenapa bentuk badan rumah gadang mirip seperti sebuah kapal, karena meniru bentuk kapal nenek moyang Minangkabau pada masa lampau. Kapal tersebut dikenal dengan sebutan Lancang.  Menurut cerita yang ada, Lancang nenek moyang ini semula berlayar menuju hulu Batang Kampar, setelah sampai di suatu daerah, mereka berlabuh lalu Lancang ini ditarik ke darat agar tidak lapuk oleh air sungai.

Lancang kemudian ditopang dengan kayu-kayu agar berdiri dengan kuat. Lalu, Lancang itu diberi atap dengan menggantungkan layarnya pada tali yang dikaitkan pada ujung-ujung tiang lancang tersebut, karena layar yang menggantung sangat berat, tali-talinya melengkung yang menyerupai gonjong, ini yang menjadi inspirasi pada desain atap rumah gadang. Lancang ini menjadi tempat hunian buat sementara selama para penumpang kapal tersebut membuat rumah tinggal yang menyerupai lancang tersebut. Setelah para nenek moyang orang Minangkabau ini menyebar, bentuk lancang yang bergonjong terus dijadikan sebagai ciri khas bentuk rumah mereka. Dengan adanya ciri khas ini, sesama mereka bahkan keturunannya menjadi lebih mudah untuk saling mengenali. Mereka akan mudah mengetahui bahwa rumah yang memiliki gonjong adalah milik kerabat mereka yang berasal dari lancang yang sama mendarat di pinggir Batang Kampar.

Arsitektur rumah tradisional Minangkabau merupakan simbol budaya bagi masyarakat suku Minang, Rumah Gadang itulah namanya, yang mempunyai arti Gadang = Besar. Besar dalam hal ini bukanlah hal fisik tetapi lebih dari itu, Besar dalam pengertian fungsi dan peranannya yang berkaitan dengan adat. Selain sebagai tempat tinggal Rumah gadang juga berfungsi untuk melastarikan adat budaya di dalam lingkungan keluarga mereka.

Ukuran pada rumah gadang berfariasi tergantung dari banyaknya penghuni rumah tersebut. Kebanyakan rumah gadang mempunyai jumlah ruangan yang ganjil. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal, fungsi rumah gadang adalah sebagai tempat kegiatan adat dan tradisi, tempat melaksanakan seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan, mendirikan kebesaran adat, tempat mufakat dan lain sebagainya.

Perbandingan ruang tempat tidur dengan ruangan umum adalah 1/3 untuk ruangan tidur dan 2/3 untuk kepentingan umum. Perbandingan ini memberi makna bahwa kepentingan umum lebih diutamakan dari kepentingan pribadi.

Pembagian ruang dalam rumah gadang :
  • Public Area, yaitu ruang tamu.
  • Semi Private, yaitu ruang peralihan seperti bandua yang terdapat didepan kamar tidur serta anjuang (ruang khusus) yang terdapat pada bagian ujung-ujung rumah gadang yang dapat kita temukan pada beberapa jenis rumah gadang.
  • Private Area, kamar tidur, jumlah kamar berdasarkan kepada jumlah anak gadis yang dimiliki oleh sipemilik rumah.
  • Service Area, Dapur.

Dalam masyarakat Minangkabau, seorang ibu mempunyai kedudukan yang istimewa, sangat penting dan menentukan. Perempuanlah yang melahirkan dan menjaga keturunan yang juga akan menentukan watak manusia yang di lahirkannya. Setiap Rumah Gadang akan dikelolah oleh seorang Ibu [Bundo]. Maka berbicara tentang Rumah Gadang sangat erat kaitannya dengan peran perempuan di ranah minang. Ranahnya perempuan.

Yang menarik adalah tonggak utama yang terdapat pada Rumah Gadang disebut dengan Limpapeh,.Di dalam kehidupan masyarakat Minang dikenal ungkapan Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang. Artinya seorang ibu menjadi tumpuan kekuatan dari sebuah rumah gadang. Apabila peran ibu ini ambruk, maka tonggak lainnya akan ambruk juga.

Rumah Gadang juga berfungsi mempertahankan sistem matrilineal–sistem kekerabatan dari garis ibu yang dianut etnis Minangkabau. Buktinya, tujuh bilik atau kamar di Rumah Gadang diperuntukkan bagi anak dan kemenakan perempuan. Seumpama seorang anak atau kemenakan perempuannya melangsungkan pernikahan, maka dia bersama sumando–menantu laki-laki–tidur di sana pada malam harinya. Sedangkan anak laki-laki yang belum menikah diharuskan tidur di surau. Bila sudah kawin, mereka harus berdiam di kediaman istri masing-masing.

Rumah Gadang mempunyai beberapa ciri khas:
  • Bentuk dasar dari bangunan Rumah Gadang adalah segi empat atau empat persegi panjang. 
  • Ruang di dalam rumah gadang selalu ganjil, yakni tiga, lima, tujuh, sembilan dan seterusnya, tergantung seberapa basar jumlah keluarga yang mendiaminya. Konon, pada masa lampau, ada yang mempunyai 17 ruang. 
  • Berbentuk rumah panggung 
  • Atapnya yang lancip pada ujung-ujungnya dan mengkungan pada tengah hampir setengah lingkaran sekilas mirip dengan bentuk tanduk kerbau. Karena atapnya membentuk gonjong, maka rumah gadang disebut juga rumah bagonjong oleh masyarakat Minang
  • Sedangkan badan rumahnya juga melengkung, landai seperti badan kapal. 
  • Terdapat tangga yang terletak di muka rumah untuk memasuki rumah gadang, dan pada atas tangga diberi atap yang melengkung dan lancip menjulang ke depan pada ujungnya.

Tangga masuk tepat berada ditengah dan terdapat serambi. Ada juga tangga di bagian ujung, langsung ke dapur. Rumah Gadang juga merupakan bangunan induk dari sejumlah bangunan lainnya. Masing-masing adalah Balairung, Rangkiang, dan Musala. Bentuk Rangkiang atau lumbung padi sangat mirip Rumah Gadang. Rangkiang juga merupakan bangunan pelengkap Rumah Gadang yang berada tepat di halaman depan.

Dalam pembangunan Rumah Gadang menggunakan teknik dan material lokal. Material utama yang digunakan pada bangunan rumah gadang adalah kayu yang banyak terdapat disekitar lokasi dimana bangunan tersebut akan didirikan. Warna-warna yang di gunakan adalah warna alami yang terdapat pada warna material kayu atau pewarna alami.

Arsitektur pada rumah gadang pada masyarakat minangkabau sangat unik, tidak ada bangunan rumah adat atau rumah tradisional lain yang terdapat di nusantara yang memiliki tipologi bangunan yang benar-benar identik dengan rumah gadang. Seperti halnya dalam penggunaan elemen atap mulai dari bentuk dan material ijuk yang digunakan, yang didesain bertingkat dan memiliki ratio tertentu dalam sudut dan ketinggiannya yang mana hal ini tidak akan ditemukan pada produk arsitektur daerah lain yang terdapat di nusantara bahkan di dunia .

Rumah Gadang merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kaum di Ranah Minang. Menurut pesan leluhur, mempertahankan Rumah Gadang adalah tugas mulia yang harus didahulukan.

No comments:

Post a Comment